Tidakkah penguasa punya telinga ?
Lihatlah rakyat yang masih menaruh harapan-harapannya
Akan jeritan-jeritan pilu kelaparan…
Akan rintihan-rintihan serak kehausan….
Di dalam doa-doa mereka kepada TUHAN
Mengapa kau tidak mendengar?
Ya, kau bukan TUHAN….
Tapi yang jelas kau juga bukan dari antara mereka.
Siapa yang mewakili hati
Jika jiwa merasa sepi
Ditambah hati yang selalu sendiri
Sunyi ditengah lampu mati
Terluka ditengah kesehatan gratis
Tanpa kerja di tengah pertumbuhan ekonomi
Putus sekolah ditengah sekolah gratis
Siapa yang menyadarkan
Jika suara jelata
Tersekat
Tersumbat
Mampet
Siapa yang layak disebut mewakili
Jika yang merasa mewakili
Tidak merakyat
Tidak merapat
Tidak mendekat.
Digubuk-gubuk tua
Yang sudut-sudutnya perlu penopang
Ada yang sulit dimengerti
Mengenai gejolak harga-harga
Sekarang naik, naik dan naik lagi
Berdinding gedek tua
Yang berlubang disana-sini
Ada yang selalu sulit dicari
Mengenai kelangkaan pupuk
Sekarang kurang, kurang dan kurang lagi
Duduk selonjor dibale-bale
Yang kaki-kakinya reyot
Ada gejolak yang sulit dipahami
Ada bupati baru, pejabat baru
Ada pemilu, pilkada dan pemilu lagi.
Masa tak selamanya sama
Selalu ada suasana baru
Kata tanpa ragu
Tindakan !!!
Nuansa tak selalu sama
Ada kelabu disela-selanya
Disaat kesadaran bukan hak…
Tapi keharusan
Disaat kemarahan bukan murka..
Tapi kewajaran
Disaat perjuangan bukan tantangan..
Tapi kenyataan
Disaat kebangkitan bukanlah Vonis !!!
Tapi kesadaran
Kepantasan bukanlah ukuran
Karena tidak membuang kemiskinan
Kepatutan bukanlah batasan
Karena itu membiarkan pemiskinan
Kebanggaan bukanlah pujian
Karena melacurkan persemiskinan
Menyadari suara ini miliknya
Menyadari tanah ini miliknya
Maka,
Siapa yang terpinggirkan
Dan,
Siapa yang terlupakan..
Merasa derita ini bukan miliknya
Mengira sedih ini bukan ceritanya
Lalu,
kenapa jelata terabaikan
Dan,
Jelata tahu apa keinginannya
Pewaris negeri kesejahteraan
Pendamba negeri kedamaian.
Jika mereka susah
Secara komunal mereka pun berduka
Jika mereka tertawa
Secara komunal mereka pun bahagia
Kemanusiaan kita pun tak pernah terusik
Jika ada para gelandangan
Kemanusiaan kita pun tak pernah tergetar
Jika banyak orang kurang waras gentayangan
Jika mereka susah, kita pun tertawa
Jika mereka tertawa, kita pun susah
Secara komunal kita berduka…
Betapa sulitnya menerima keberadaan
Ditengah anomali kehidupan yangmembahana
Semua bak fatamorgana
Diujung ujung pengharapan
Namun banyak jiwa yang diam
Seakan pasrah untuk menerima inilah kehidupan
Seakan besok hanya milik mereka
Yang tidurnya mimpi, bangun dalam impian
Banyak mulut yang terdiam
Seakan inilah tontonan kehidupan
Dihati yang hanya kurang sejengkal itu
Keyakinan inipun ikut diam.
Sebagai pengelola penyelenggaraan negara,
dipimpin oleh seorang kepala negara,
yang tunduk kepada ketentuan-ketentuan yang berlaku,
kepala negara memiliki kedaulatan baik kedalam maupun keluar negara.
Namun, kepala negara pun dibatasi hak dan kewajibanya dalam menjalankan tugas penyelenggaran negara,
sehingga negara dapat terhindar dari kesewenang-wenangan.